Fenomena Langka,Blue Moon Musiman dan Bulanan ini Perbedaannya!

Fenomena Langka,Blue Moon Musiman dan Bulanan ini Perbedaannya! – Hari ini, Minggu (22/8/2021) pukul 19.01 WIB, masyarakat Indonesia bisa menyaksikan fenomena langit berupa Bulan Biru atau Blue Moon. Terdapat dua jenis jenis fenomena Bulan Biru, yaitu Musiman dan Bulanan. Fenomena Bulan Biru yang terjadi nanti malam termasuk dalam Bulan Biru Musiman. Fenomena Bulan Biru terjadi kira-kira setiap dua atau tiga tahun sekali. Baik Bulan Biru Musiman maupun Bulanan, keduanya sama-sama tidak menampakkan warna Bulan yang berubah menjadi biru. Penamaan Bulan Biru ini hanya istilah saja. Lantas, apa bedanya Bulan Biru Musiman dan Bulanan? Bulan biru musiman Bulan Biru sebenarnya bukanlah fenomena Bulan yang berubah warna menjadi biru.

Asal-usul historis istilah ini masih simpang siur. Bulan Biru Musiman (Seasonal Blue Moon) adalah Bulan Purnama ketiga dari salah satu musim astronomis yang di dalamnya terjadi empat kali Bulan Purnama. “Blue Moon itu bulan purnama, bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia,” kata Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lapan Emanuel Sungging Mumpuni. Bulan yang tampak benar-benar biru hanya terjadi ketika kabut asap dan abu vulkanik dari letusan gunung berapi menutupi Bulan. Sementara, fenomena Bulan Biru Musiman hanya penamaan Bulan Purnama pada waktu tertentu.

Istilah Bulan Biru musiman berawal dari Almanak Petani Maine tentang kemunculan purnama ke-13 dalam satu tahun. Pada masa itu, angka 13 dianggap sebagai angka sial. Oleh sebab itu, penamaan purnama ini diganti sebagai Bulan Biru. Bulan Biru Musiman terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali. Fenomena sebelumnya terjadi pada 19 Mei 2019 dan 22 Mei 2016. Fenomena Bulan Biru Musiman akan kembali terjadi pada 20 Agustus 2024 dan 20 Mei 2027 mendatang. Bulan Biru Musiman terjadi sedikit lebih jarang daripada Bulan Biru Bulanan. Dalam 1100 tahun antara 1550 dan 2650, ada 408 Bulan Biru Musiman dan 456 Bulan Biru Bulanan.

Bulan Biru Bulanan (Monthly Blue Moon) terjadi ketika Bulan Purnama terjadi di sekitar awal bulan Masehi. Hal ini dikarenakan rata-rata lunasi sebesar 29,53 hari, lebih pendek dibandingkan dengan 11 bulan dalam kalender Masehi. Awal penamaannya terjadi ketika seorang astronom amatir, James Hugh Pruett (1886–1955) menulis di majalah Sky & Telescope edisi 1946. dia menyebut Bulan Purnama kedua sebagai Bulan Biru. Kesalahan ini akhirnya tersebar sebagai fakta. Bahkan hari ini, kesalahan itu dijadikan sebagai definisi purnama di awal bulan Masehi, kiranya menganggapnya sebagai suatu kesalahan.

Bulan Biru Bulanan juga terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali. Fenomena sebelumnya terjadi pada 31 Juli 2015 dan 31 Januari 2018. Fenomena Bulan Biru Musiman akan kembali terjadi pada 31 Agustus 2023 dan 31 Mei 2026 mendatang.  Bisa terjadi bersamaan Bulan Biru Musiman dan Bulanan terkadang bisa terjadi di tahun yang sama, dengan rentang waktu antara 1550-2650, telah terjadi 20 kali Bulan Biru Musiman dan Bulanan sekaligus. Fenomena ini terjadi terakhir kali pada 1934 dan akan terjadi bersamaan lagi pada 2048.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *