Alasan Penerbangan Internasional dari Singapura Masih Dilarang

Alasan Penerbangan Internasional dari Singapura Masih Dilarang – Pemerintah akan kembali membuka penerbangan internasional secara bertahap, tetapi penerbangan dari Singapura masih dilarang. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia akan membuka penerbangan Internasional dari 18 negara dan bagi warga negara asing (WNA), yang akan dilakukan pada pekan ini. Namun pembukaan pintu masuk bagi 18 negara tersebut tidak termasuk dari Singapura, karena kondisi Covid-19 di negara tersebut belum memenuhi persyaratan level pandemi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Saya kira Singapura belum termasuk karena mungkin belum terpenuhi persyaratan standar level 1, level 2 sesuai dengan WHO,” kata Luhut saat konferensi pers evaluasi PPKM, Senin (11/10/2021).

Walaupun demikian, bagi warga negara Indonesia (WNI) yang hendak pulang ke Indonesia dari Singapura, maka tetap diperbolehkan asalkan menjalani karantina. “Mengenai orang Indonesia yang datang, tentu (karantina) berlakunya tetap 5 hari,” katanya lagi. Dia mengatakan, penentuan karantina 5 hari tersebut dihitung berdasarkan masa inkubasi virus. Sebelumnya, karantina berlaku 14 hari, tetapi hal ini berubah karena semakin banyak orang yang sudah divaksinasi. “Jadi saya kira risikonya makin rendah karena tingkat imunitas kita juga bertambah sejalan dengan jumlah yang divaksin, dan juga jumlah lansia yang divaksin juga bertambah,” terangnya. Coba Hidup Berdampingan dengan Covid-19 Situasi Covid-19 di Singapura.

Kantin The Deck, di Fakultas Ilmu Sosial, National University of Singapore terlihat lengang, Jumat siang (9/10/2021). Singapura kembali mengumumkan pembatasan sosial sejak Senin (27/9/2021) setelah angka harian kasus Covid-19 memecahkan rekor menembus angka tertinggi sejak pandemi berkecamuk pada Januari 2020. Singapura melaporkan rekor infeksi Covid-19 harian lebih dari 3.000 kasus selama beberapa hari terakhir. Meskipun hampir semua kasus menunjukkan gejala ringan, atau bahkan tidak mengalami gejala sama sekali. Hal ini karena negara berpenduduk 5,45 juta orang itu telah memvaksinasi 83 persen dari populasi, salah satu tingkat tertinggi di dunia. Singapura baru-baru ini menerapkan kembali pembatasan untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19.

Meskipun demikian, pemerintah Singapura akan membuka perbatasan penerbangan internasionalnya untuk negara yang bebas karantina. Mulai 19 Oktober 2021 mendatang, peemerintah memperbolehkan orang-orang yang divaksinasi dosis penuh dari delapan negara, termasuk Inggris, Perancis, Spanyol, dan Amerika Serikat, akan dapat memasuki Singapura itu tanpa dikarantina jika mereka lulus tes Covid-19. Karantina sebelum keberangkatan hingga saat kedatangan Untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19, pemerintah akan memperketat persyaratan kedatangan internasional di Bali mulai dari sebelum keberangkatan hingga saat kedatangan atau Pre-Departure Requirement hingga On-Arrival Requrement. “Untuk memastikan tidak terjadinya peningkatan kasus di Bali, pemerintah juga memperketat persyaratan mulai dari pre-departure requirement hingga on-arrival requirement,” kata Luhut.
Berikut persyaratan Pre-Departure atau sebelum keberangkatan: Berasal dari negara dengan kasus konfirmasi level 1 dan 2 dengan positivity rate kurang dari sama dengan 5 persen Hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil maximal 3×24 jam sebelum jam keberangkatan Bukti vaksinasi lengkap, dengan dosis ke-2 dilakukan setidaknya 14 hari sebelum keberangkatan dan ditulis dalam bahasa Inggris, selain bahasa negara asal Asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal 100.000 dollar AS dan mencakup pembiayaan penanganan Covid-19 Bukti konfirmasi pembayaran akomodasi selama di Indonesia dari penyedia akomodasi atau pihak ketiga.

Adapun persyaratan On-Arrival atau saat kedatangan, yakni: Mengisi E-HAC via aplikasi PeduliLindungi Melaksanakan tes RT-PCR on arrival dengan biaya sendiri, pelaku perjalanan dapat menunggu hasil tes RT-PCR di akomodasi yang sudah direservasi Jika hasil negatif, maka pelaku perjalanan dapat melakukan karantina ditempat karantina yang sudah direservasi selama 5 hari; lalu melakukan PCR pada hari ke 4 malam. Jika hasil negatif maka pada hari ke-5 sudah bisa keluar dari karantina.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *