Viral, Video Hujan Turun Hanya Guyur Satu Mobil, Ini Penjelasan BMKG

Viral, Video Hujan Turun Hanya Guyur Satu Mobil, Ini Penjelasan BMKG – Sebuah video mengenai terjadinya hujan hanya pada satu mobil viral di media sosial TikTok. Postingan tersebut diunggah oleh akun TikTok @uryanriana. “Allah maha kuasa, hujan hanya untuk semobil saja,” tulis akun tersebut di video yang dia unggah. Adapun dalam video tersebut terdengar suara pria yang menceritakan narasi sebagai berikut: “Saudara-saudara ini hujan di mobil ini doang. Lihat nih, yang lain kagak nih,” katanya.

Hingga kini postingan tersebut telah disukai oleh satu juta pengguna dan mendapat lebih 30,4 ribu komentar dan dibagikan ulang 54,2 ribu kali. Beragam komentar muncul terkait video tersebut: “Dulu pernah ada juga di komplek kasus kayak gini, ternyata toren bocor,” tulis akun Koharotv. “pasti yg punya mobil bilang ‘langit bisakah kau turunkan hujan di mobilku, aku cape cuci mobil terus’” tulis akun dengan nama REY. Dari pantauan Kompas.com, postingan tersebut viral kembali di berbagai media sosial lain baik Instagram maupun Facebook.

Penjelasan BMKG Terkait dengan viralnya peristiwa tersebut, Kompas.com menghubungi Sub Koordinator Hubungan Pers dan Media Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwi Rini Endra Sari. Ririn menjelaskan, BMKG saat ini belum dapat mengkonfirmasi terkait kebenaran kejadian tersebut. Mengingat data yang ada saat ini hanya berupa visual video yang disampaikan oleh warga dengan format durasi yang cukup singkat.
Sementara itu, menurut Ririn, data-data pengamatan cuaca visual yang sifatnya lokal, yang bisa dianalisis secara objektif setempat tidak tersedia.

Kemungkinan terjadi kecil Meski demikian, Ririn mengatakan, hujan yang terjadi pada video viral terjadi hanya pada area yang sangat sempit (di atas satu mobil) dengan diameter butiran air yang jatuh cukup besar. Secara logika dan teori, menurut dia, sangat kecil kemungkinan hal itu terjadi. “Sangat kecil kemungkinan terjadi. Hal ini dikarenakan diamater awan Cumulonimbus yang menghasilkan hujan seperti pada video umumnya memiliki diameter beberapa puluh hingga ratusan kilometer,” kata Ririn.

Dia mengatakan, hujan umumnya terjadi ketika awan sudah cukup matang dan jika proses kondensasi pada awan cukup kuat. Saat demikian, maka akan terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang mana cirinya diameter buliran besar pada area yang luas. Adapun jika hujan dari awan Comulonimbus dengan cakupan yang tidak luas, ketika menghasilkan hujan lebat maka akan ditemukan hujan dengan intensitas ringan yang ditandai dengan butiran lebih kecil di paling tidak satu sisi hujan dengan intensitas yang lebat. “Kondisi tersebut tidak ditemukan pada video yang beredar karena hujan yang jatuh pada area cakupan sempit dan intensitas lebat (tidak ada satupun sisi yang menunjukkan intensitas hujan ringan),” kata dia.

Lokasi hujan mengikuti pergerakan awan Selain itu, Ririn mengatakan bahwa lokasi hujan pada awan Cumulonimbus umumnya juga mengikuti pergerakan awan. Sehingga, sangat jarang terjadi pada titik lokasi yang sama pada waktu lama. Terutama jika diameter awan cukup kecil, maka akan sangat jelas terlihat pergerakan awan dan hujannya. “Ketika terjadi hujan yang sifatnya sangat lokal, dapat dipastikan ada angin dan tutupan awan yang tidak merata. Awan Cumulus penyebab hujan lokal sulit terbentuk di kondisi setelah hujan seperti kejadian yang viral saat ini,” kata dia.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *